Darah pejuang itu mengalir deras

0
88
Ketua Majelis Syuro DPP PKS, Habib Salim Segaf Al-jufri

 

73 tahun sudah arek-arek Suroboyo menggelorakan semangat jihad para pemuda. Pertempuran terbesar yang terjadi paska Indonesia Merdeka terjadi pada tanggal 10 November 1945 di ibu kota provinsi Jawa Timur, Surabaya. Pantaslah jika Surabaya dijuluki sebagai kota pahlwan.

Hotel yamato (saat ini bernama hotel Majapahit Surabaya) dan jembatan merah menjadi saksi bisu bagaimana pemuda Indonesia saat itu berhasil menurunkan bendera belanda yang berkibar setelah seruan pengibaran bendera merah putih di seluruh pelosok nusantara.

Kita mengenal beberapa tokoh perjuangan kala itu. Salah satunya adalah dr soetomo atau biasa disebut bung Tomo. Sebagai tokoh pemuda, bung Tomo berhasil menggelorakan semangat jihad arek-arek Suroboyo melalui orasinya yang berapi-api. Pekikan takbir yang berkumandang menggelorakan semangat pemuda dalam pertempuran saat itu. Disinilah makna takbir yang menjadi simbol semangat bagi sebagian anak muda negeri ini.

Di wilayah Lampung kita juga mengenal Raden Intan II sebagai pahlawan yang berjuang mengusir penjajahan Belanda di bumi Ruwa Jurai. Benteng pertahanannya yang sangat sulit dimasuki oleh Belanda membuat tentara Belanda akhinya membuat tipu daya dan menghasut beberapa masyarakat hingga tega menghianati Raden Intan II.

Dalam Sejarah Islam di Provinsi Lampung juga dikenang seorang ulama kharismatik yang terlahir di jawa timur tetapi berjuang untuk menyelamatkan Lampung dari penjajah. Ialah KH. Ghalib Pringsewu. Beliau terlahir pada tahun 1899 dan di usia ke 45 tahun baru menginjakan kakinya di tanah bambu seribu yang saat itu masih dalam bayang-bayang penjajahan jepang pada tahun 1942.

Selain KH Ghalib, masyarakata Lampung juga mengenal sosok yang sangat tulus dalam berjuang. Dialah pahlawan putra asli dari Lampung Timur, Sukadana KH. Hanafiah. Bukan hanya bergelar pahlawan, namun ia adalah seorang ulama yang banyak menelurkan karya dan giat dalam menuntut ilmu. KH Hanafia mempertahankan kedaulatan Indonesia saat agresi belanda tahun 1947.

KH Hanafiah yang merupakan komandan laskar Hizbulloh ikut berperang bersama pasukan TNI. Namun saat itu gerakan TNI sudah diketahui oleh mata-mata Belanda sehingga pasukan TNI mundur sementara pasukan laskar Hizbulloh yang tengah berisitirahat disergap Belanda dan terjadilah pertempuran hebat. Disinilah KH Hanafia tertangkap hidup-hidup lalu dimasukan ke dalam karung dan ditenggelamkan di sungai.

Hingga saat ini, tak ada satu pun yang mengetahui makam KH Hanafiah. Sosok yang sangat agamis, rendah hati, sangat dikagumi, pemberani dan ditakuti oleh penjajah itu adalah putra asli dari Lampung Timur.

Pertempuran-pertempuran itu sudah lama berlalu, namun akan tetap mampu memecut gelora perjuangan hingga saat ini dan di masa depan. Tak heran jika banyak pemuda terutama mereka yang menyeburkan diri pada partai dakwah seperti PKS senantiasa memekikan takbir dalam setiap kesempatan. Hal ini adalah sebuah ungkapan semangat yang tak pernah surut dari para kader PKS dalam mempertahankan semangat juang membangun negeri tercinta.

Darah perjuangan itu bukan hanya dimaknai dengan perjuangan fisik. Karena perjuangan saat ini lebih mengedepankan pada pembangunan di berbagai bidang.

Salah satu pembangunan yang paling penting adalah pembangunan sumber daya manusia. Sumber Daya Manusia ini dihasilkan dari pendidikan yang bermutu. Sekolah-sekolah, madrasah, pesantren hingga perguruan tinggi.

Semangat perjuangan membangun sumber daya manusia juga telah ditunjukan oleh banhak pahlawan nasional salah satunya oleh Idrus bin Salim Aljufri. Atau lebih dikenal dengan sebutan ‘Guru Tua’.

Guru Tua adalah pendiri yayasan Al-khairat. Ketika diseluruh pulau jawa kita mengenal wali songo, maka di Palu masyarakat mengenal guru tua sebagai pahlawan pendidikan penyebar agama islam yang rahmatan lil alamiin.

Beliau adalah kakek dari salah satu petinggi PKS Habib Salim Asegaf Aljufri. Pembawaan habib Salim yang tenang, bersahaja dan senantiasa menggelorakan semangat jihad para kader PKS yang mendengar orasinya itu terbawa dari darah pejuang yang mengalir deras di tubuhnya.

Semangat membangun sumber daya manusia yang kompeten melalui pendidikan adalah salah satu cara membalas jasa para pahlawan yang telah memerdekakan Indonesia dengan perasan keringan dan tumpahan darah. Maka hingga kini, darah perjuangan itu masih mengalir dan terus bergelora pada diri anak bangsa.

LEAVE A REPLY