Syarif Hidayat: Jangan Sampai Terjadi Praktik ”main mata” dan Jual Beli Kursi Biling

0
496

Bandar Lampung – Temuan adanya calon siswa ”berduit” yang mendaftar ke SMP Negeri 22 Bandar Lampung melalui jalur Bina Lingkungan (Biling) mendapat perhatian khusus dari wakil rakyat. Ketua Komisi IV DPRD Kota Bandar Lampung Syarif Hidayat mengatakan, verifikasi dan kejujuran pihak sekolah menjadi kata kunci dalam mengantisipasi potensi terjadinya kecurangan dalam Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB).

Syarif meminta pihak sekolah melaksanakan persyaratan program Biling secara sungguh-sungguh. Misalnya, memprioritaskan siswa yang benar-benar tidak mampu dan memang tinggal di sekitar lokasi sekolah.
Selain itu, Syarif mengingatkan kepada sekolah untuk melakukan verifikasi calon siswa Biling secara baik dan benar. Jangan sampai terjadi praktik ”main mata” dan jual beli kursi Biling, yakni membiarkan siswa dari keluarga menengah ke atas untuk masuk sekolah negeri lewat jalur Biling.

”Kita minta pihak sekolah dalam memverifikasi siswa di jalur Biling ini benar-benar sesuai fakta. Sekolah mesti memprioritaskan siswa tidak mampu dan mereka yang tinggal tidak jauh dari sekolah yang dituju,” tutur Syarif, Minggu (14/6).

”Karena dari informasi yang kita terima, pendaftar Biling di hampir semua sekolah favorit melebihi kuota yang ada. Tentu hal ini sangat rawan (penyimpangan),” jelasnya.

Ia mencontohkan, SMKN 4 Bandar Lampung memiliki kuota sekitar 400 kursi saja. Namun, jumlah pendaftar Biling sudah mencapai 1.600 orang.

”Ini yang kita bingung. Belum lagi jalur regulernya. Makanya kita nanti hari Jumat (18/6) akan rapat dengan seluruh MKKS (musyawarah kerja kepala sekolah) dan dewan pendidikan guna menyikapi ini. Apa yang harus dikoreksi dan dievaluasi dari Biling ini,” kata legislator PKS ini.

Syarif menilai program Biling sangat baik. Namun, karena rawan penyimpangan, mesti ada hal-hal yang perlu dievaluasi. Misalnya terkait dengan kuota dan kursi yang tersedia di sebuah sekolah.

Menurut dia, penambahan kuota Biling yang mencapai 70 persen memiliki dampak negatif. Dengan sisa kuota di sekolah tinggal 30 persen, tentu banyak siswa pintar yang terpaksa tidak tertampung di sekolah favorit.

”Inilah yang harus dievaluasi. Kita berharap ke depan Biling juga didistribusikan kepada pihak (sekolah) swasta agar ada pemerataan. Sekarang ini banyak orangtua yang berpikir lebih baik tidak mampu dan bisa masuk sekolah favorit daripada kaya tapi tidak masuk sekolah favorit,” bebernya.

Seharusnya, kata dia, penerimaan siswa di jalur Biling ini melalui tes seleksi. Dengan begitu, siswa yang masuk melalui jalur ini juga memiliki kebanggaan karena lulus berdasarkan hasil tes. Jadi bukan bangga karena tidak mampu.

”Kritik dan evaluasi kami ini semata-mata untuk dunia pendidikan, sehingga program ini tidak merusak pola pendidikan. Harus ada pemerataan antara sekolah negeri dan swasta, dan tentunya mutu sekolah tetap terjaga,” pungkasnya.

LEAVE A REPLY