Ust. Muhith (2): Tetap Berjuang Walau Tak Setuju

0
744

Baru 6 bulan Amr Bin Ash masuk islam, Rasulullah saw telah menunjuknya menjadi panglima perang yang di dalam pasukannya ada para sahabat senior. Sebenarnya para sahabat juga merasakan suatu keanehan.

Ditambah lagi dengan peristiwa yang terjadi di lapangan. Suatu pagi panglima perang Amr bin Ash dalam keadaan junub yang mewajibkan untuk mandi. Akan tetapi kondisi saat itu sangat dingin yang akhirnya beliau hanya bertayammum menggantikan mandi dan menjadi imam shalat subuh. Sehingga terkenal peristiwa tersebut dengan istilah “ makmum berwudhu dan berimam dengan imam yang tayamum”.

Para sahabat ra tetap berimam dan shalat di belakang Amr bin Ash dan kemudian dilaporkan kepada Rasulullah saw. Apakah Rasulullah saw marah dalam hal ini ? Beliau mengatakan ; ia dijadikan imam itu untuk diikuti.

Berhenti “dakwah” Karena Menolak Hasil  Syura’ ?

Khalifah Abu Bakar AshSiddiq dipilih oleh kaum muslimin secara musyawarah sebagian dari kaum muslimin dari kalangan Muhajirin dan Anshor. Tidak semua sahabat dan kaum muslimin dapat mengikuti musyawarah tersebut untuk memilih siapa pengganti Rasulullah saw. Dan ditetapkan serta di bai’at Abu Bakar  menjadi khalifah dan kaum muslimin sepakat dalam hal ini. Diikuti yang di Madinah dan Makkah pada pagi harinya.

Hanya saja, selain Makkah dan Madinah menolak keputusan penetapan tersebut. Seluruh jazirah arab menolak keputusan dan hasil syura pengangkatan Abu Bakar ra.

Pelajaran :

Bahwa hasil syura yang dilakukan sebagian kaum muslimin yang merupakan majelis syura saat itu keputusannya mengikat bagi seluruh kaum muslimin. Sebagian besar kaum muslimin menolak hasil syura (keputusan tersebut) dan nabi-nabi palsu yang telah bermunculan pada masa rasul masih hidup semakin berani. Di antaranya adalah Musailamah al Kadzdzab serta diringi dengan kaum murtad yang tidak mau membayar zakat.

Jika ada yang berhenti berdakwah, insilakh, futur,  karena tidak setuju dengan hasil syura yang dilakukan oleh majelis syura, kecewa dengan hasil syura maka pada lampau hal ini pernah terjadi dan tidak perlu heran. Apakah mereka lebih baik dari para sahabat Rasulullah saw? Dan apakah hasil syura lebih buruk dari pendapat pribadi para penolak syura? Sehingga harus kecewa, stagnan, futur, dan keluar ?

Tidak perlu dijawab. Karena hal yang demikian pernah terjadi. Bahkan tidak sekedar menolak tetapi juga tidak mau bekerja bahkan mengangkat senjata dan memberontak.

Menunjuk Umar ra tanpa Syura’

Pemilihan khalifah pengganti Abu Bakar ra tidak dilakukan dengan syura’. Tidak ada sahabat yang dilibatkan. Khalifah Abu Bakar ra sendiri yang menunjuk Umar ra sebagai gantinya sepeninggal beliau. Dan tidak ada yang menentangnya kecuali sahabat Sa’ad bin Abi Waqash ra. Mendatangi rumah Abu Bakar dan menanyakan alasan mengapa memilih Umar ra.

Tidak berapa lama kemudian Sa’ad bin Abi Waqash keluar dari rumah Abu Bakar ra dengan menangis. Ia menyesal telah berani-berani menanyakan alasannya kepada Abu Bakar atas penunjukkan Umar menjadi khalifah penggantinya. Akhirnya iapun menerimanya.

Setelah Umar menjadi Khalifah maka yang ditunjuk menjadi panglima perang Al Qadisiyah adalah Sa’ad bin Abi Waqash satu-satunya sahabat yang dulunya menentang atau tidak setuju dengan keputusan Abu Bakar menunjuk Umar menjadi penggantinya.

Pelajaran :

Jika ada ikhwah atau akhwat yang ditunjuk menjadi ketua, caleg atau apapun tanpa ada syura terlebih dahulu maka sungguh hal ini pun telah ada contohnya dari orng-orang yang terbaik dri generasi ini. Umar ra tidak mengatakan kepada Abu Bakar : “Kenapa saya tidak diajak syura’ dulu?.” Semua sahabat tidak ada yang menetang keputusan seorang saja. Padahal keputusan yang ditetapkan adalah memilih “khalifah” bukan sekedar ketua DPRa, DPC, DPD, DPW, caleg atau lainnya.

Jika ada yang menolak keputusan dari sepihak yang mewakili jamaah maka hendaknya ia melihat contoh para  sahabat ra.

Dan terhadap sikap Sa’ad bin Abi Waqash, Umar ra tidak ada dendam apapun kepadanya bahkan menjadikannya panglima perangnya. Demikian pula sahabat Sa’ad bin Abi Waqash, ia tidak ngambek karena khalifahnya adalah orang yang tidak ia setujui dulu. Tetapi ia menjadi orang pertama yang mendukung Umar ra dan menjadi panglima perangnya dalam sebuah peperangan yang sangat terkenal al Qadisiyah yang tidak bisa dipisahkan dengan namanya.

Jika ada saat ini ada yang futur, berhenti ngaji, liqo’ dikarenakan kecewa dengan salah seorang qiyadah, panutan, pimpinan, dsb. Maka segeralah ia berkaca dengan para sahabat. Apakah ia lebih baik dari sahabat?

Aku Berlepas Diri Dari Apa Yang Dilakukan Khalid

Selesai Perang Hunain, Rasulullah saw memerintahkan kepada Khalid bin Walid memimpin ekspedisi untuk mengislamkan suatu kabilah yang masih tersisa. Pada masa jahiliyah, antara kabilah Khalid dan kabilah tersebut pernah terjadi permusuhan dan peperangan. Dan Rasulullah saw memilih Khalid ra untuk mengislamkan kabilah tersebut karena mereka telah menyerah dan akan masuk ke dalam islam.

Khalid dan pasukannya berangkat dengan semangat perang sehingga panji-panji yang dibawa adalah panji-panji peperangan. Kabilah yang menunggu utusan Rasulullah saw yang datang  mengislamkan mereka pun telah berkumpul untuk menyambut. Khalid bin walid ra memahami bahwa kabilah yang berkumpul tersebut (yang pernah bermusuhan dengan kabilahnya) adalah telah bersiap-siap menyerang pasukannya.

Demikian pula apa yang difahami oleh kabilah tersebut karena yang datang adalah Khalid ra berarti bukan untuk mengislamkan tetapi untuk berperang. Sehingga terjadilah peperangan yang memakan kurban terbunuh.

Berita ini sampailah kepada Rasulullah saw sehingga beliau bersabda, “Aku menyuruh Khalid untuk mengislamkan mereka bukan memerangi” “Aku berlepas diri dari apa yang dilakukan Khalid”.

Setelah itu, Rasulullah saw mengutus sahabat yang lain dan membayar diyat atau tebusan semua yang terbunuh dari kabilah tersebut setiap nyawa 100 ekor unta.

Pelajaran :

Banyak hal yang dapat diambil pelajarannya dari peristiwa ini. Akan tetapi saya hanya akan memfokuskan kepada sikap Khalid bin Walid setelah itu. Ia pernah disanjung oleh rasul dengan pedang Allah dan sekarang ini Rasulullah berlepas diri dari perbuatannya. Akan tetapi, Khalid tidak menjadi futur, ngambek, berhenti, murtad, dsb. Bahkan ia memperbaiki sikapnya.

Dipecat Justru Di Saat Sedang Berhasil

Abubakar ra adalah sahabat yang memahami rijal-rijal dan kemampuan para sahabat Rasulullah saw. Menempatkan setiap personnya pada posisi yang tepat sehingga beliau menempatkan Khalid bin Walid sebagai panglima perang dalam berbagai pertempuran. Abu bakar memilihnya dalam menghancurkan nabi-nabi palsu karena tidak ada yang tepat dalam hal ini kecuali Khalid, begitupun dalam memerangi kaum yang murtad.

Setiap peperangan yang dipimpin oleh Khalid pasti menang bahkan saat ia masih jahiliyah. Khalid bin walid adalah panglima yang hebat lagi mulia. Saat pemerintahan Abubakar belum ada pengaturan khusus terkait dengan harta ghonimah. Seluruh ghonimah dibagikan di tempat. Langsung oleh panglima perang dan tidak perlu dilaporkan ke pusat khilafah.

Pada masa Umar ra kebijakan ini berubah. Umar menetapkan gaji para panglima, prajurit, prajurit berkuda, berjalan kaki, dsb. Harta rampasan perang harus disetorkan ke kantor pusat terlebih dahulu tidak dibagi-bagi di tempat.

Umar juga memberhentikan Khalid bin Walid dari jabatan panglima perang menjadi prajurit biasa justru saat berkecamuk perang. Banyak sahabat yang tidak sepakat dan menyayangkan keputusan Umar ra. Bahkan Khalid ra mendatangi Khalifah Umar ra di Madinah dan mengatakan “Ya Khalifah anda tidak obyektif kepada saya”. Dan Umar ra menjawab , ”Wahai Khalid justru itulah, sesungguhnya aku mencintaimu sebagaimana aku melihat diriku sendiri.”

Dalam hal ini Umar ra melihat bahwa keyakinan akan pertolongan Allah swt telah sedikit tergeserkan dalam pasukan kaum muslimin. Karena mereka selalu yakin jika pasukan dipimpin oleh Khalid selalu menang. Hal ini yang ditakutkan oleh Khalifah Umar ra. Walaupun hal itu tidak seluruhnya benar.

Saat Khalid bin Walid ra meninggal dunia. Umar ra menangis tersedu dan mengatakan : “Sungguh kematian Khalid adalah musibah yang besar. Sungguh tidak akan ada lagi wanita yang dari rahimnya lahir seperti Khalid”. Saat itu sahabat Ali ra menanyakan kepada Umar ra : “Jika demikian, kenapa engkau dulu memecatnya dari panglima?.”

Umar menjawab dengan rasa penyesalan: ”Ya, sungguh Abubakar lebih mengetahui para rijal dibandingkan aku.”

Pelajaran :

Adakah yang merasa lebih dari Khalid bin walid ?

Adakah yang merasa lebih bersalah dari Umar bin Khatab ?

Jika anda sebagai ketua, aleg, apapun….kemudian dihentikan jabatannya…

Apakah anda lebih hebat dan lebih mulia dibandingkan Khalid bin walid ?

[Taujih Ust. Muhith Muhammad Ishaq – Bidang Kaderisasi DPP Partai Keadilan Sejahtera dalam Mabit Struktur Di GSG DPW PKS Lampung  9 Juni 2012. Disarikan oleh Tri Mulyono, Lc – DSW PKS Lampung].

LEAVE A REPLY