Friday, April 24, 2026
spot_img

Ibu yang yang dirindukan

 

Judul yang menggelitik, ada yang mungkin punya persepsi yang berbeda-beda terkait judul diatas tapi yang ingin disampaikan adalah apa benar kehadiran ibu untuk anaknya itu memang dirindukan?

Jawabannya bisa berbeda-beda, jika anak-anak memang kehadiran ibunya sangat minim malahan mungkin tidak sama sekali hadir barangkali bisa jadi anak-anak tersebut tidak sedikitpun merindukan ibunya karena sudah sangat minim waktu berjumpanya apalagi berkomunikasi.

Kebayang kan bagaimana dampak buat anak-anak tersebut? Walaupun mungkin ibu-ibu mereka ada alasan sendiri mengapa mereka berbuat seperti itu yang sebagian alasan terbanyak karena faktor ekonomi.

Oleh karena itu harapan buat kita semua untuk mengembalikan fungsi ibu yang sesungguhnya menjadi madrasah pendidik pertama dalam keluarga untuk mendampingi pembangunan generasi tangguh masa depan sangatlah penting. Negara dan peran organisasi masyarakat, dan tokoh-tokoh agama, masyarakat harus hadir untuk membekali, membina dan mendampingi ibu-ibu yang terpaksa harus bekerja atau kebutuhan lainnya sehingga kehadiran ibu yang sangat minim.

Dari Sumber Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KEMENPPPA), Badan Pusat Statistik (BPS), dan UNICEF Indonesia

menyajikan data tentang akibat minimnya kehadiran ibu atau orangtua di Indonesia:

Gangguan Emosi dan Perilaku Anak: 20-30% anak-anak yang tidak memiliki kehadiran ibu yang cukup mengalami gangguan emosi dan perilaku, seperti kecemasan, depresi, dan agresi.

– Keterlambatan Perkembangan Anak: 15-25% anak-anak yang tidak memiliki kehadiran ibu yang cukup mengalami keterlambatan perkembangan, seperti keterlambatan bicara dan bahasa.

Penurunan Prestasi Akademik: 30-40% anak-anak yang tidak memiliki kehadiran ibu yang cukup mengalami penurunan prestasi akademik, seperti nilai yang rendah dan kesulitan dalam menyelesaikan tugas.

– Kekerasan dan Penyalahgunaan: 10-20% anak-anak yang tidak memiliki kehadiran ibu yang cukup lebih rentan terhadap kekerasan dan penyalahgunaan, seperti kekerasan fisik dan emosional.

– Kesulitan dalam Membentuk Hubungan: 25-35% anak-anak yang tidak memiliki kehadiran ibu yang cukup mengalami kesulitan dalam membentuk hubungan yang sehat dengan orang lain, seperti kesulitan dalam membentuk hubungan romantis dan persahabatan.

Ini tidak bisa dibiarkan, Anak-anak adalah generasi penerus bangsa, merekalah yang akan memimpin negeri kita tercinta. Mereka punya hak mendapatkan rasa aman, nyaman, dan bahagia di rumahnya bersama ibu tercinta.

Oleh karena itu menjadi ibu yang dirindukan, dirindukan anak, suami, dan keluarga sudah pasti seorang ibu tersebut harus sehat dan bahagia baik fisik, mental, maupun emosinya untuk bisa lahirkan keluarga tangguh. Disini peran ayah juga sangat penting untuk bisa memastikan para isteri, ibu dari anak-anaknya sehat dan bahagia. Maka dibutuhkan komunikasi yang sehat antara suami isteri untuk membesarkan dan mendampingi anak-anak mereka agar berkembang menjadi pribadi yang tangguh dan bahagia.

Rumah Keluarga Indoensia memiliki kegiatan untuk menambah wawasan dan kesadaran kita akan pentingnya kehadiran ibu dalam keluarga, kuantitas yang berkualitas. Jadi hadirnya ibu lahirkan keluarga yang tangguh yang siap berkontribusi demi tercapainya generasi emas 2045 akan tercapai jika para ibu selalu belajar untuk memberikan versi terbaiknya untuk keluarga.

Selamat Hari Ibu 2025

Ibu sehat dan bahagia, lahirkan keluarga tangguh”

Related Articles

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Stay Connected

7,962FollowersFollow
3,350FollowersFollow
5,550SubscribersSubscribe
- LOGO PKS -spot_img

Latest Articles